Ini Tentang Cinta

Suatu ketika di sebuah masjid indah di kota Istambul, Masjid Beyazid dalam sebuah acara tabligh besar yang dihadiri para Affandi, panggilan shalihin dan alim ulama serta masyarakat lainnya warga kota di kagetkan oleh seorang yang panik karena kehilangan keledainya.

“Duhai syaikh, bisakah kau menolongku dimana gerangan keledaiku? mungkin engkau bisa menanyakan pada warga yang hadir saat ini” tanya seorang warga yang kehilangan keledainya.

‘Baiklah, akan kucarikan keledaimu” sang Syaikh menyanggupi

 

cinta kepada Allah
www.islamdiaries.net

 

Lalu sang syaikh berdiri di hadapan jamaah,lalu bertanya
“Adakah diantara kalian yang belum tahu tentang CINTA?”
“Adakah diantara kalian yang belum pernah mengecap cinta dalam bentuk apapun? merasakan gundahnya, tangisnya, rindunya?”
Sang syaikh bertanya pada jamaah.

Tidak lama berdiri seorang lelaki lalu disusul dua orang lainnya.
Lelaki pertama berkata ” Aku sungguh tidak tahu apa itu cinta, tidak pernah mengecapnya, apalagi merasakan yang tuan syaikh sebutkan”. kedua lelaki lainnya mengangguk angguk.

Lalu Sang Syaikh berkata pada lelaki yang kehilangan keledainya.
“Engkau telah kehilangan keledai. Kini kutawarkan 3 sebagai gantinya”
..
Ironis bukan…? bahkan seekor keledai pun mencintai rerumputan hijau yang segar. Kedudukan cinta begitu tinggi. Manusia tanpa cinta terlebih pada Al Haq, cinta pada kebenaran maka derajatnya jauh terperosok lebih rendah dari seekor keledai pun.

Di hadapan Allah, maqam derajat yang dekat dengannya adalah para hamba hamba Allah yang berjuang selama hidupnya menjalani ketaatan kepada Allah semata karena kecintaan pada-NYA.

Modernisme mengubah manusia sebagai instrumen yang segalanya diukur pada kecintaan materi belaka. Padahal esensi kehidupan adalah cinta.

Dalam bentuk apapun kita merasakan cinta, dalam tingkat apapun, itu semua bagian kecil dari cinta ilahiyah.

Baca Juga  Bahkan Masjidil Haram pun Ada Saat Sepinya. 

Cinta berarti memandang baik dan indah dalam segalanya. Untuk belajar dari segala sesuatu, Untuk melihat karunia Allah dan kemurahannya dalam segala hal, karena esensi dari Tuhan sendiri adalah Cinta.

Maka, saat gelas hati dipenuhi beningnya Cinta ia akan mewujud dalam bentuk syukur atas segala hal pemberianNYA. Hingga rasa sakit pun terasa menyenangkan.

 

Cinta yang jernih akan membawa kebahagiaan

 

Allah subhanahu wa taala memberikan penghargaan tinggi pada hamba hamba Nya yang berkumpul di jalan Allah atas nama cinta.

Cinta yang disandarkan pada pemilik kehidupan bukanlah cinta yang terbatas di dunia saja.

Pada hari perhitungan, ketika amal ditimbang dan ditemukan dalam keadaan kurang, maka setiap individu akan mencari tambahan.

Seorang anak akan berlari menuju ibu dan bapaknya, Seorang suami akan menuntut istrinya, Setiap jiwa akan berada di puncak egoisme tertinggi guna menyelamatkan dirinya masing masing.

“Adakah yang bisa menyelamatkan aku dengan menambah pahala kebaikan atau mengurangi catatan keburukan?”

Hubungan suami istri, ayah dan anak anaknya, sahabat dengan sejawatnya, jika tidak dilandasi kecintaan yang hakiki pada Allah, akan berada dalam kondisi yang saling menyakiti.
Semua akan mencari kesalahannya masing masing.

Namun…
Saat halaqah cinta di dunia disuburkan oleh cinta kepada Allah, kecintaan pada Allah dan ketaatan pada Nya, akan membawa keselamatan dan kebahagiaan.

Tidak ada lagi saling mengurangi justru yang ada adalah saling menambahi.

Di Saat itulah kasih sayang dan keadilan ilahiah menengahi. Mencurah curahkan rahmatNya bagi para hamba hamba Nya menautkan kehidupan dengan ikatan cinta karena Allah dengan anugrah taman Firdaus di jannah Nya.

والله أعلم

#BangJey
#Makkahbackpaker

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.