Seganteng Yousuf atau Seelok Maryam

Seringkali kita gagal memahami sebuah proses. Manusia hanya fokus pada hasil akhir.

Di kampung, saat tujuh bulanan biasanya orang tua membacakan surah Yousuf. Hanya berharap putranya kelak guantenggg seperti Nabi Yousuf.

Jika jabang bayinya bakal perempuan,  dibacakan surah Maryam (Maria), ibunda Nabi Isa (Yesus) alaihisalam.

Hanya berharap anak perempuannya seelok Maryam.

Kita bercukup cukup dengan realitas permukaan, etalase di balik kaca dengan mengabaikan apa yang terjadi sesungguhnya di balik itu semua.

Mentadaburi kisah Nabi Yousuf,  bukan semata guantenggg dan menjadi penguasa besar di Mesir.

Mentadaburi kisah Nabi Yousuf,  mentadaburi bahwa jalan hidup itu berliku lagi terjal. Saling berhimpitannya:

Susah dan mudah

Gelisah dan tenang

Tangis dan tawa

Dan road map perjalanan hidup begitu sempurna Allah Azzawajalla siapkan hingga kita sendiri tidak menyadari seolah olah kita yang menentukan semuanya.

Kalimat pamungkas Nabi Yousuf tentang perjalanan hidupnya saat;

Dibuang ke sumur oleh saudaranya yang dengki; dijual di pasar budak; dipungut jadi piaraan penguasa; dihasrati syahwat wanita cantik, difitnah istri penguasa;  Dijebloskan ke penjara; lalu dipungkasi dengan ujian mengatur urusan umat dan kesempatan untuk balas dendam namun berakhir indah dengan kemaafan.

ان ربي لطيف لمن يشاء

Sesungguhnya Tuhanku, amat Lembut (skenarionya dalam mengatur segala hal kehidupan bagi hamba hambaNYA) terhadap apa yang Dia kehendaki.

Diatas adalah ucapan Nabi Yousuf alaihisalam yang diabadikan dalam firman Allah di surat Yusuf Ayat 100.

Begitu pula dengan Maryam, ibunda Al masih yang episode hidupnya dari hari demi hari yang dilalui di dalam mihrab hingga berujung harus pergi jauh dari kampung halaman menuju Mesir, menghindari fitnah dan cercaan orang orang, berjibaku dalam kehimpitan melahirkan Al Masih Isa bin Maryam dan seabreg keluh kesah lainnya.

Baca Juga  Lirik Lagu Kisah Sang Rosul Lengkap Dan Tombo Ati, Lir Ilir

maryam

***

Bagaimana kita memahami proses secara utuh pada kedua sosok yang dimuliakan Allah Azzawajalla dalam hidupnya?

Bahwa kemuliaan di hadapan Allah bukan serba mudah, instant, senang, penuh tawa, dan dihormati orang.

Saat menjaga mutu dan nilai yang sesuai kehendakNYA, justru saat itulah ujian, fitnah, dera cobaan, Tangis, hinaan mengguyur setiap langkah kita.

Memahami proses dengan utuh, mendidik agar diri sadar dan ridha pada setiap stasiun kehidupan ini yang begitu Lembut dan sempurna skenarioNYA disiapkan. Agar semata…

Kita tidak pernah lepas bergantung padanya.

 

#Bangjey

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.